Dia sangat menghargai wanita, dia mampu menjaga setiap
perkataan dan perilakunya agar tidak menyakiti orang lain. Dia tak pernah
menyentuhku selama 4 tahun kita berpacaran. Pernah hanya satu kali dia menyentuh
tanganku, kemudian dia langsung berkali-kali meminta maaf atas perilaku
lancangnya itu. Namanya Fahmi. Lelaki arab yang tak pernah disukai oleh ibuku. Dan
akhirnya kita harus backstreet selama 4 tahun.
“Sudahlah Fahmi, percuma semua ini. 4 tahun sudah aku berusaha
meyakinkan orang tuaku, begitu juga kamu. Tapi hasilnya tetap nihil.”
“Tapi kita akan tetap memperjuangkannya kan?”
“Tidak. Aku lelah. Sudah cukup lelah.”
“Kita akan jalani semua ini bersama-sama Mel.”
“Aku bilang percuma Fahmi. Semua akan percuma jika
pernikahan kita tanpa restu orang tua.”
“Baiklah kalau itu memang maumu.”
“Kalau kita memang berjodoh, aku yakin Tuhan akan menyatukan
kita lagi nanti suatu saat.”
Hening.
***
Entah apa yang ada dipikiran mereka, keduanya tak menyetujui
hubunganku dengan Fahmi. Baik orang tuaku maupun orang tua Fahmi. Apa karena
aku bukan wanita berkerudung dan berhidung mancung seperti kebanyakan orang di
tempat lahir mereka ? tapi setidaknya aku bukan wanita murahan yang mudah saja
jalan dengan lelaki lain. Aku masih mampu menjaga kehormatanku dengan baik.
Layaknya kamu yang juga mampu menjaga hatiku dengan sangat baik selama ini.
Tapi sudahlah, aku terlalu lemah untuk mempertahankanmu,
untuk meyakinkanmu kepada orang tuaku. Kita memang bisa saja kawin lari tanpa
restu mereka, tapi kita sependapat untuk tak melakukannya. Kita berpikir apalah
arti pernikahan kita nanti jika tanpa restu orang tua? Kita hidup tidak hanya
untuk kebahagiaan kita berdua kan? Aku suka sekali cara berpikirmu itu. Sangat
dewasa.
***
Setelah beberapa tahun aku memutuskan untuk menikah dengan
pria lain. Entah apa yang membuatku memutuskan untuk mengiyakan ajakannya untuk
menikah. Dia baik, tapi tak sebaik kamu dalam menjaga perasaan wanita. Pasti
beruntung sekali wanita yang berjodoh denganmu. Aku juga sayang dia. Tapi sampai
sekarang rasa sayangku masih lebih untukmu.
Aku ingin menghubungimu, mengundangmu ke resepsi
pernikahanku nanti. Tapi aku takut menyakitimu, aku pun mengurungkan niatku.
Mungkin aku akan memberitahumu setelah pernikahanku selesai saja.
“Hallo Mel.”
“Hallo. Apa kabar Fahmi?”
“Alhamdulillah baik. Kebetulan aku juga mau menghubungimu
tadi.”
“Wah ada apa nih?”
“Kamu dulu dong yang cerita ada apa kok ingin
menghubungiku.”
“Baiklah. Aku cuma ingin memberitahu kalau aku sudah menikah
kemarin.”
“Benarkah? Sebenarnya aku juga ingin memberitahu hal yang
sama Mel.”
“Jadi kamu juga sudah menikah?”
“Iya baru kemarin juga. Maaf tidak mengundangmu.”
“Tak apa Fahmi. Maaf juga aku tak mengundangmu.”
“It’s fine. Salam ya buat suamimu.”
“iya, salam juga untuk istrimu.”
Tut tut . .
***
Kita masing sering
berkomunikasi sejak dulu. Bukan sering juga sebenarnya, karena jarang juga.
Tapi kita masih sempat sekedar menyapa di waktu luang dan saling menanyakan
kabar
“ Hallo Mel.”
“Hei apa kabar?”
“Baik Mel. Kamu bagaimana?”
“Alhamdulillah baik juga. Kebetulan sekali padahal aku tadi
juga ingin menelponmu.”
Sering sekali terjadi hal seperti iti. Saat aku takut untuk
menghubunginya, Tiba – tiba saja dia yang menghubungiku terlebih dahulu. Dan
sebaliknya saat aku menghubunginya dia sering bilang bahwa sebenarnya saat itu
dia juga ingin menghubungiku. Entahlah ikatan batin kita masih terasa masih
sangat kuat, meskipun sudah sekitar sekitar 7 tahun sejak kita memutuskan untuk
berpisah. Hingga saat ini, saat aku sudah bercerai kita seperti tetap memiliki
ikatan batin itu.
Yah hanya beberapa bulan sejak pernikahanku itu kami
bercerai. Entahlah mungkin sudah takdir Tuhan. Aku juga tak ingin menceritakan
tentang pernikahanku dengan dia ini secara detail. Aku tak bersemangat untuk
menceritakan tentang pernikahan yang berakhir dengan perceraian ini. Aku hanya
cukup bercerita bahwa aku pernah menikah dengan dia, dan sekarang kita sudah
bercerai.
Tapi yang perlu aku ceritakan hanya bahwa ternyata masih ada
hatiku yang terbuka untuk Fahmi. Aku tak bisa melupakannya. Aku suka sekali
cara dia memperlakukan wanita dengan sangat sopan. Aku kagum kepada dia. Tak
ada lelaki lain yang bisa membuatku seperti ini. Tapi tenang saja Fahmi, aku
takkan mengganggu rumah tanggamu. Aku cukup senang melihat kamu bahagia dengan
wanita lain. Aku masih yakin jika berjodoh Tuhan akan menyatukan kita lagi.
Setidaknya sampai saat ini cuma kamu satu – satunya yang berhasil membuatku
kagum pada sosok seorang pria. Dan setiap orang bertanya kepadaku kapan aku
akan menikah lagi aku selalu menjawab “Aku hanya akan menikah lagi jika Fahmi
lah jodohku, atau setidaknya jika aku menemukan pria lain seperti Fahmi.”