Sekuat tenaga aku memejamkan mata, pikiranku serasa sangat
kacau malam ini. Dan sekuat tenaga pula selama dua bulan ini aku berusaha
tegar, membiasakan diri tanpa kabarmu, membiasakan diri tidak mengabarimu pula,
membiasakan diri untuk tidak candu akan hadirmu. Ketika dua bulan sudah kamu
tidak berusaha menghubungi , aku sadar diri. Selama ini ada yang lebih kamu
prioritaskan jauh lebih daripada aku. Aku hanyalah sebutir debu di jalanan yang
kau abaikan. Karena itu aku akan lebih memilih mundur. Lebih memilih menata
kembali kepingan hati yang mulai berantakan, memainkan puzzle hatiku sendiri.
Oh but now I miss you so bad, Tuan 6 Maretku.
Kamu satu-satunya yang bisa lebih membuatku merasa nyaman
dibanding dengan lelaki yang rela memberikan segala-galanya untukku itu.
Bodohnya aku lebih memilih kenyamanan sesaat itu, kamu. Aku memang wanita bodoh
yang gampang dibohongi, meleleh karena sejuta rayuan gombal dan gampang percaya
dengan berbagai janji manis.
Sampai tiba-tiba kamu datang, dengan beribu alasan dan beribu
kata maaf. Semudah itu sayang? Kamu piker aku tidak berusaha mati-matian untuk
mematikan rasa ini. Cinta, sayang, rindu, benci, marah, kesal. Kamu kira selama
ini aku juga baik-baik saja tanpa kabarmu?
Kalau kamu hanya butuh persinggahan, kenapa kau sendiri pula
yang dulu memintaku untuk berkomitmen bersama? Bahkan mesin waktu doraemon pun
tak akan membuat kita kembali seperti dulu. Energiku sudah terkuras banyak
selama ini untu menghapusmu dan aku hampir berhasil sayang lalu tiba-tiba kamu
datang lagi.
Kamu kira dengan segala pesan panjang lebarmu itu aku akan
dengan mudah menerimamu kembali? Harus berapa lama lagi aku jadi wanita bodohmu
yang bisa selalu kau bohongi? Dan dengan gampangnya lagi kamu bilang ingin kita
yang dulu? Selama ini kamu kemana? Mati suri? Atau kamu baru bangun dari
hibernasimu? Atau lebih parah lagi dalam waktu sekian lama itu kamu berusaha
mencari orang lain yang kamu anggap akan lebih baik dariku lantas kau tak
menemukannya lalu kembali padaku?
Aku tidak seperti di pikiranmu yang menuduhku
dengan gampangnya selama ini aku tak mencarimu karena aku sibuk dengan lelaki
lain. Aku punya alasan untuk tidak memperjuangkanmu lagi. Silahkan beranggapan
buruk terhadapku sesuka hatimu. Dan masih dengan alasan yang sangat membosankan
kamu bertanya tentang hubungan kita? Maaf. Silahkan pergi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar