Maaf.
Satu – satunya kata yang sejak tiga tahun yang lalu ingin aku sampaikan kepada
semua orang di rumah ini. Sejak aku sadar bahwa kamu sudah menarik perhatianku
begitu dalam. Bahwa aku telah lancang, berani mencintaimu sejauh ini. Menyembuyikan
kita yang telah selama ini. Kita yang sudah terlalu nyaman disembunyikan, sudah
terlalu takut untuk mengakui bahwa kita ada, bukan sekedar aku dan kamu. Bukan
sekedar kita yang mungkin mereka kira sebatas sudah kita anggap saudara. Bahwa ada
secuil cinta yang tumbuh sejak tiga tahun itu. Dan sekarang cinta itu sudah
membesar memberontak meminta pengakuan.
Untuk
kamu,
Kamu
sudah siap jika mereka menentang kita? Kamu sudah siap jika akhirnya semua tak
lagi harus bersama? Kamu sudah siap jika kita harus saling melupakan? Kamu sudah siap jika kita tak akan menjadi
kita? Hati kamu sudah siap jika harus terluka? Hati kamu sudah siap jika harus
mencari pengganti? Kamu yakin sayang? Tegarkan hatimu untuk pertempuran demi
sebuah pengakuan ini.
Untuk
bundamu sayang,
Maaf
bun harus membuatmu merasakan sedih sedalam ini. Maafkan aku yang berani
meminta anakmu untuk belajar mengenal Tuhanku di masjid. Maaf membiarkanmu
harus merelakan anakmu yang telah kamu ajari ke gereja sejak kecil ini harus
sia – sia. Maafkan aku yang harus mulai mengajarinya berhijab yang sejak dulu
kamu ajari dia untuk mengurai rambut panjangnya. Maaf bun karena aku harus
menghapus semua ajaranmu itu demi kita.
Untuk
ayahmu sayang,
Kata
maafku mungkin tak akan cukup untuk sekedar mengikhlaskan anakmu ini untuk
menjadi seutuhnya mengikutiku mengadahkan tangan, menghapus segala ajaran
melipat dada itu. Maafkan aku yang telah berani lancing, mencintai anakmu. Maaf
aku baru berani menyatakan semuanya sekarang. Aku butuh waktu untuk meyakinkan
anakmu ini bahwa Tuhanku pun benar. Bahwa jika restumu itu akan selalu
menyertai aku dan anakmu, aku tak ingin ada dua nahkoda dalam rumah tanggaku. Bahwa
aku sebagai pemimpin rumah tangga harus sepenuhnya kamu percayai, termasuk
Tuhanku. Karena aku akan berjanji untuk selalu menjaga dia sebaik mungkin,
melindungi dia seutuhnya. Menjadikan dia istri seperti Aisyah di Al-Qur’an atau
Maria di Al-Kitabmu.
Maaf
jika aku yang harus membuatmu merasa bersalah kepada orangtuamu sayang. Maaf untuk
setiap tetes air mata yang sering kamu teteskan untuk memutuskan ini semua. Mungkin
maaf ini memang takkan cukup untuk mengganti semua. Tapi percayalah sayang,
restu mereka akan mengantarkan kita bahagia.