Blogroll

Jumat, 14 Desember 2012

Kita Berbeda

Tiba-tiba saja air mata ini jatuh seketika ketika orang tuaku menghubungi. Baru kali ini, bukankah aku biasanya selalu senang saat kedua malaikatku itu menghubungiku ?
Tapi kali ini berbeda. Pola pikir mereka seketika berubah semenjak dua hari yang lalu, yaa semenjak kedua orang tua calon suamiku datang bersilaturahmi ke rumahku.
Aaarg cobaan apa lagi ini Tuhan ? sudah cukup lama dan susah untuk mempertahankan hubungan kami yang telah berkali – kali hampir hancur berantakan. Cobaan apa lagi yang bisa meretakkan hubungan kami ini Tuhan ?
Semua masih bisa diusahakan untuk dipertahankan jika titik masalahnya hanya antara aku dan dia. Tapi kali ini kenapa orang tuaku harus ikut terlibat ? semuanya akan semakin membingungkan jika masalah ini antara orang tua calon suamiku dan orang tuaku sendiri. Haruskah aku mengorbankan semua perasaanku yang telah terbina bertahun-tahun ini dengan calon suamiku daripada kedua orang tuaku ? ataukah aku harus mengorbankan perasaan kedua orang tuaku demi calon suami yang aku cintai ? semuanya terlalu menyulitkan, Tuhan.
Aku tau keluargaku dan keluarga calon suamiku sungguh berbeda. Aku tau kamu, calon suamiku berasal dari keluarga berada, sedangkan kami ? kami tak lebih dr sebuah keluarga jelata. Memang akan sulit sekali bagi keluargamu untuk menerima aku dan juga keluargaku. Dan akan sama menyulitkan untuk menyatukan keluarga kita.
Tapi bukankah suatu perbedaanlah yang harusnya menyatukan dua insan manusia ? Bukankah perbedaan yang seharusnya mempersatukan dua anak manusia ? dan bukankah perbedaan seharusnya dapat menjadi pemanis dalam suatu hubungan manusia ? tapi kenapa pernyataan itu tak berlaku untuk kita ? tak adil .
Lalu kemana aku akan bisa melabuhkan rasaku ini ? tak mudah bagiku untuk mulai mencintaimu karena aku tau perbedaan yang menonjol diantara kita. Tapi kamu tak pernah lelah untuk memperjuangkannya kan dulu ? kamu berhasil meyakinkanku bahwa kita bisa, ya kita akan bisa bersama. Bersama selama 2 tahun sebelum akhirnya orang tuamu mengetahui bagaimana keadaan keluargaku.
Ah sudahlah sayang, ikuti saja orang tuamu! Aku yakin orang tua takkan pernah memberikan hal yang buruk kepada anaknya. Karena tak mungkin juga kita tetap berada dalam suatu hubungan tanpa restu. Lupakan semua hal menyakitkan. Yakinlah rencana Tuhan lebih indah. Semoga kamu bahagia. Aku pun akan bahagia.